CERPEN "DILAN"
Sore itu, Bandung kembali turun hujan. Rintik-rintik kecil membasahi jalan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan. Dilan duduk di atas motornya, menunggu di depan gerbang sekolah. Jaket jeans yang sudah agak pudar melekat erat di tubuhnya, sementara helm ia biarkan tergantung di stang motor. Tak lama kemudian, Milea keluar dengan payung merah muda. Senyumnya langsung membuat hati Dilan riang. “Ngapain hujan-hujanan nungguin aku? Kan bisa nunggu di bawah atap,” tegur Milea lembut. Dilan terkekeh. “Kalau aku nunggu di atap, terus hujannya cemburu, gimana? Dia kan bisa marah karena nggak sempet ketemu aku.” Milea menatapnya dengan mata yang separuh kesal, separuh gemas. Selalu saja ada alasan aneh keluar dari mulut Dilan. Namun, itulah yang membuatnya berbeda. Mereka pun berboncengan menyusuri jalan yang basah. Hujan semakin deras, tapi Dilan tak pernah keberatan. Justru ia menikmati setiap tetes air yang membasahi wajahnya. Baginya, hujan adalah musik, dan Milea adalah lagunya. Di sebuah ta...