CERPEN "DILAN"
Sore itu, Bandung kembali turun hujan. Rintik-rintik kecil membasahi jalan yang dipenuhi lalu lalang kendaraan. Dilan duduk di atas motornya, menunggu di depan gerbang sekolah. Jaket jeans yang sudah agak pudar melekat erat di tubuhnya, sementara helm ia biarkan tergantung di stang motor.
Tak lama kemudian, Milea keluar dengan payung merah muda. Senyumnya langsung membuat hati Dilan riang.
“Ngapain hujan-hujanan nungguin aku? Kan bisa nunggu di bawah atap,” tegur Milea lembut.
Dilan terkekeh.
“Kalau aku nunggu di atap, terus hujannya cemburu, gimana? Dia kan bisa marah karena nggak sempet ketemu aku.”
Milea menatapnya dengan mata yang separuh kesal, separuh gemas. Selalu saja ada alasan aneh keluar dari mulut Dilan. Namun, itulah yang membuatnya berbeda.
Mereka pun berboncengan menyusuri jalan yang basah. Hujan semakin deras, tapi Dilan tak pernah keberatan. Justru ia menikmati setiap tetes air yang membasahi wajahnya. Baginya, hujan adalah musik, dan Milea adalah lagunya.
Di sebuah taman kecil, Dilan menghentikan motornya.
“Kita berhenti sebentar, yuk. Aku mau kasih sesuatu.”
Dari saku jaketnya, ia mengeluarkan sebuah buku kecil dengan sampul cokelat. Milea menerimanya dengan hati-hati.
“Ini apa?” tanyanya.
“Isinya bukan puisi. Aku nggak pandai bikin puisi. Tapi… di situ aku tulis semua hal yang bikin aku inget sama kamu,” jawab Dilan pelan.
Milea membuka beberapa halaman. Ada catatan-catatan sederhana, lucu, sekaligus manis. Seperti:
“Aku suka cara kamu ketawa, karena bikin hari aku nggak gelap.”
“Kalau kamu marah, dunia kayak ikut gempa, tapi tetap indah.”
“Aku nggak butuh ramalan cuaca, karena senyummu selalu bikin cerah.”
Milea menutup buku itu, matanya sedikit berkaca-kaca.
“Dil… kamu kenapa sih bisa seaneh ini?”
Dilan tersenyum sambil menatap langit yang perlahan mulai meredakan hujan.
“Aku nggak aneh, Lea. Aku cuma takut suatu saat nanti kamu lupa, kalau pernah ada cowok bernama Dilan yang selalu nungguin kamu… bahkan di tengah hujan.”
Milea terdiam, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Dilan. Dalam hening sore itu, mereka tahu: perasaan sederhana bisa jadi kisah yang abadi.
Komentar
Posting Komentar